Rabu, 28 September 2016

Misteri Prasasti Berisi Kutukan Milik Indonesia yang Dibawa Inggris

Selain dijajah Portugis, Belanda, Prancis, dan Jepang, Indonesia juga pernah dijajah Inggris. Ada anggapan bangsa yang dijajah Inggris akan bernasib baik. Benarkah?

Sejarawan asal Inggris, Peter Carey menolak anggapan tersebut. Selama lima tahun menjajah Indonesia, Inggris banyak membawa kerugian.


“Banyak yang katakan mungkin jika Indonesia dijajah oleh Inggris akan lebih baik, mereka banyak berkaca pada Malaysia dan Singapura. Tapi semua itu bohong,” ujarnya dalam seminar “Objects, Museums, Histories Between the Netherlands and Indonesia: the Case of Diponegoro,” di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (18/5).

Menurut Peter Carey, ketika menginjakan kaki di Jawa, Inggris membuat kekacauan. Terlebih mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Dia menyoroti dua benda cagar budaya penting milik Indonesia yang masih berada di museum luar negeri. Prasasti Pucangan yang dikenal Calcutta Stone berada di Museum India dan Prasasti Sangguran atau dikenal dengan Minto Stone.

Prasasti Pucangan berasal dari tahun 1041 M. Prasasti ini memuat sejarah awal pemerintahan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan. Prasasti ini ditemukan pada masa Sir Stamford Raffles menjadi gubernur saat pemerintahan kolonial Inggris di Batavia. Dia mengirimkannya kepada Gubernur Jendral Lord Minto di Kalkuta, India.

Sementara itu, Prasasti Sangguran yang berasal dari tahun 982 M ditemukan di daerah Malang. Prasasti ini dianggap penting karena menyebut raja Medang yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa Malang. Kolonel Colin Mackenzie menghadiahkan prasasti ini kepada Raffles, yang oleh Raffles kemudian diserahkan kepada Lord Minto pada 1813.

“Lord Minto berharap prasasti ini suatu saat akan bercerita kisah dari timur tentang kita,” tutur Peter Carey.

Selama puluhan tahun, Prasasti Sangguran disimpan oleh pewaris keluarga Lord Minto di Skotlandia. Sudah berbagai cara dilakukan demi membawa pulang prasasti itu. Proses negosiasi dilakukan pemerintah Indonesia sejak 2004. Namun, hingga kini prasasti itu belum juga berhasil dibawa pulang ke Indonesia. Sudah lebih dari 200 tahun prasasti itu masih berdiri di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk.

Padahal, kata Peter Carey, prasasti itu mengandung kutukan yang mengerikan. Prasasti yang bersisi penetapan Desa Sangguran sebagai sima atau tanah perdikan itu dilarang untuk dipindahkan dari tempatnya semula. Jika itu dilakukan kutukan akan menghujani pelaku.

Nyatanya, mereka yang terlibat dalam pemindahan prasasti itu pun ketiban sial. Lord Minto sendiri, setelah menerima batu itu, dicopot dari jabatannya sebagai gubernur jenderal tanpa alasan jelas. Dia pulang ke Inggris dalam keadaan sakit dan meninggal dalam perjalanan menuju Skotlandia.

Hal serupa terjadi pada Raffles. Dia ditarik pulang ke Inggris. Pada 1818 kembali ke India dan kembali dipulangkan pada 1823. Setelahnya dia pun meninggal pada 1826.

Ranggalawe, Bupati Malang juga mengalami nasib tak lebih baik. Makam bupati ini tak pernah diketahui. Padahal dia telah memerintah sejak tahun 1770-1820. Seolah ingatan lokal atas sang bupati telah dihapus.

Sementara pengembalian dua prasasti itu masih belum mencapai kejelasan, benda yang disimpan oleh keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jean Chretien Baud telah berhasil dibawa pulang.

Setelah 180 tahun menyimpan pusaka milik Pangeran Diponegoro, pada Februari lalu tongkat pusaka milik sang pangeran dikembalikan. Kini benda itu disimpan di Museum Nasional Jakarta. Sumber: ForumViva

Senin, 26 September 2016

Cara Memandikan Pusaka di Malam 1 Suro

Cerita Pesugihan Nyata - Pusaka berkhodam identik dengan aura mistis dan laku ritual tertentu dalam merawatnya agar tetap berkhasiat. Salah satu ritual yang tak boleh ditinggalkan oleh si empunya yakni memandikan pusaka di malam 1 suro. Entah dari mana awal mula tradisi ini dilakukan oleh masyarakat jawa yang jelas hingga era modern ini ritual jamasan benda pusaka baik berupa keris, tombak, rajah, kereta kencana, dan lain sebagainya masih tetap dilakukan oleh pemegang waris dari benda tersebut.

Masyarakat jawa meyakini jika di dalam sebuah benda pusaka terdapat khodam atau penghuni gaib yang menggambarkan khasiat dari pusaka tersebut. Sistem kepercayaan ini yang kemudian menumbuhkan perlakuan khusus terhadap benda-benda peninggalan masa lalu yang dianggap sebagai benda bertuah dan memiliki khasiat di luar nalar manusia.

cara-memandikan-pusaka-malam-1-suro
Untuk mengetahui tujuan serta cara memandikan pusaka di malam 1 suro di bawah ini sedikit banyak akan kita ulas secara lebih terperini.

Tujuan Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka memiliki makna memandikan, membersihkan, atau mensucikan benda bertuah sebagai salah satu cara untuk merawat benda tersebut. Selain dilakukan untuk menjaga agar kondisi benda tetap baik seiring termakan nya usia ritual ini juga digambarkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas pusaka peninggalan leluhur.

Tujuan dari jamasan pusaka adalah menjalin ikatan batin antara pemegang pusaka dengan khodam yang terdapat di dalamnya sehingga terwujud keselarasan antara pemilik dengan benda tersebut. Di lain sisi mereka yang melakukan ritual jamasan pusaka juga meyakini mendapatkan ketenangan serta mendapatkan kedekatan batiniah terhadap leluhur yang menjadi pewaris pusaka sebelumnya.
Baca Juga: Keris Semar Mesem
Secara batiniah memandikan pusaka baik itu berupa keris, tombak, ajimat, dan lain sebagainya bukan sekedar membersihkan secara fisik saja tetapi lebih mengarah pada ritual sakral sebagai upaya penghargaan terhadap nilai-niai yang terdapat pada benda tersebut.

Cara Memandikan Pusaka di malam 1 suro

Sudah menjadi rahasia umum jika ritual memandikan pusaka pada malam satu suro senantiasa dilakukan oleh pewaris benda pusaka tersebut. Meski terdapat beberapa perbedaan antara satu daerah dengan daerah lain namun ritual pemandian pusaka pada umumnya dilakukan dengan beberapa uborampe dan cara berikut:

Tahap Persiapan

Menjelang ritual dilakukan biasanya pemilik pusaka akan terlebih dahulu mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan dalam tradisi tersebut. Beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain:

Baskom, Air, dan Tikar

Tikar digunakan sebagai alas ritual sementara baskom dan air dipergunakan sebagai media untuk memandikan atau mencuci pusaka. Tidak seperti mencuci benda lain seperti motor ataupun tikar air yang dibutuhkan dalam pemandian benda pusaka tidak terlalu banyak namun tetap cukup dengan artian air tersebut cukup untuk menjamas pusaka yang dimaksud.

Kembang Setaman dan Kemenyan

Kembang setaman yang terdiri dari lima macam yakni kembang kanthil, kembang melati, mawar merah dan putih, serta bunga kenanga. Fungsi utama dari bunga ini nantinya dicampurkan ke dalam air dalam baskom yang akan digunakan untuk membasuh pusaka. Selain itu kemenyan atau dupa dipergunakan saat ritual jamasan pusaka akan dilakukan.

Belimbing Wuluh dan Jeruk Nipis

Belimbing wuluh yang memiliki nama ilmiah averrhoa bilimbi bertujuan sebagai penghilang karat yang terdapat pada benda pusaka. Selain dilakukan menggunakan blimbing wuluh menghilangkan karat juga dapat dilakukan menggunakan jeruk nipis.

Secara logika benda pusaka memang telah diciptakan puluhan bahkan ratusan tahun yang silam, seiring bertambahnya usia benda yang terbuat dari bahan besi, tembaga, atau dan baja tersebut akan mudah terkena karat. Dengan menggunakan 2 bahan di atas karat yang menempel pada pusaka akan hilang dan kembali bersih seperti sedia kala.

Minyak Wangi

Bagi Anda yang akrab dengan dunia klenik tentu sudah tidak asing lagi dengan minyak wangi dan kemenyan sebagai bahan ritual. Minyak wangi atau parfum yang biasa digunakan dalam jamasan benda pusaka di malam 1 suro antara lain minyak melati, minyak cendana, minyak mistik, dan lain sebagainya. Minyak Wangi sebenarnya digunakan manakala pusaka telah selesai dijamas. Minyak ini nantinya akan dioleskan menyeluruh pada bagian pusaka agar harum dan terkesan istimewa.

Kain Kafan

Terdengar seram pastinya jika kita mendengar kain kafan, pasalnya kain ini biasa dipergunakan untuk membungkus jenazah saat akan dikebumikan. Namun demikian bagi pemilik benda pusaka kain kafan juga digunakan sebagai pembungkus dari benda pusaka tersebut agar terhindar dari debu dan kelembaban secara langsung. Kain kafan ini nantinya akan digunakan untuk membungkus benda pusaka sebelum disimpan kembali.

Langkah Jamasan Benda Pusaka

Jamasan atau memandikan benda pusaka biasanya dilakukan dengan beberapa tahapan. Berikut tahapan dalam ritual memandikan pusaka di malam 1 suro:

Ritual pembuka

Pastikan pakaian dan tempat yang digunakan untuk ritual jamasan bersih dan suci dari najis. Lakukan proses dengan ikhlas dan sebisa mungkin menghindari segala macam gangguan. Ritual pembuka bisa dilakukan dengan menggelar tikar dan mempersiapkan naman berisi air lalu campurkan bunga yang telah dipersiapkan ke dalamnya. Persiapkan kain mori di sebelah baskom kemudian nyalakan kemenyan atau dupa.

Pengambilan Benda Pusaka dan Jamasan

Pengambilan benda pusaka dari tempat persinggahan biasa dilakukan dengan cara terlebih dahulu memberikan penghormatan baik itu dengan cara sembah sungkem atau sebatas ucapan saja. Pegang pusaka tersebut menggunakan kedua tangan secara santun kemudian letakkan pada kain kafan yang sebelumnya telah dipersiapkan di sebelah baskom berisi air dan bunga.
Jika pusaka tersebut sebelumnya terbalut kain kafan terlebih dahulu lepas ikatan tersebut kemudian mulai proses pemandian pusaka di malam 1 suro dengan membersihkan nya dari debu yang menempel. Setelah debu dan kotoran hilang langkah berikutnya bersihkan benda tersebut dari karat yang menempel menggunakan blimbing wuluh atau jeruk nipis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Lakukan pembersihan karat di seluruh badan pusaka terlebih jika benda tersebut memiliki permukaan yang tidak rata, bersihkan setiap sela secara seksama dan hati-hati. Seusai benda pusaka bersih dari karat langkah berikutnya membasuh dengan air yang telah dipersiapkan secara hati-hati dan penuh khidmat.

Setelah usai membasuh dengan air bunga selanjutnya keringkan pusaka menggunakan kain kafan yang telah dipersiapkan dilanjutkan dengan pemberian minyak wangi di seluruh badan pusaka. Jika dirasa pemberian pewangi telah cukup selanjutnya masukan pusaka pada warangka nya (untuk jenis keris) dan bungkus atau balut menggunakan kain kafan yang baru.

Langkah di atas merupakan cara memandikan pusaka di malam 1 suro yang biasa dilakukan pemegang pusaka. Setelah benda pusaka atau ajimat kembali terbungkus kain kafan selanjutnya kembali lakukan penghormatan dan simpan di tempat aman serta tidak lembab.

Minggu, 25 September 2016

Fakta & Mistos Malam Satu Suro 2016 di Malam Minggu Kliwon

Malam 1 suro identik dengan aura mistis dan cerita gaib yang kerap dikisahkan oleh masyarakat Indonesia. Pada tahun 2016 ini malam tahun baru islam tersebut jatuh pada hari sabtu malam minggu atau sabtu malam tanggal 2 Oktober 2016. Ada apakah di balik malam satu suro 2016?

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat nenek moyang, Indonesia cukup terkenal dengan berbagai mitos dan cerita rakyat tentang segala hal. Salah satu yang tak kalah menarik yakni cerita tentang mitos malam 1 suro. Tak heran jika salah satu produser film pada tahun 1988 sempat mengangkat cerita misteri tentang malam 1 suro yang dibintangi oleh Suzanna.

fakta-mitos-malam-satu-suro-2016

Mitos Malam Satu Suro

Sejak saya kecil hingga sekarang mitos malam 1 suro kerap terdengar di telinga manakala hari pergantian tahun baru islam tersebut semakin dekat. Di bawha ini merupakan beberapa mitos yang mungkin saja juga pernah teman-teman dengar sebelumnya:

Lebarannya Makhluk Gaib

Cerita ini pasti sudah kerap terdengar di telinga kita, sebagian masyarakat pada masa lalu mempercayai jika malam 1 suro merupakan lebaran bagi makhluk gaib sehingga banyak diantara mereka keluar dari tempat persinggahan untuk melakukan berbagai aktifitas.

Anehnya mitos ini kerap dikaitkan dengan adanya penampakan serta gangguan makhluk halus di malam tersebut. Entah darimana awal keyakinan ini muncul yang jelas mitos tersebut hingga kini masih banyak dipercaya.

Permulaan Bulan Kesialan

Berlebihan sebenarnya jika ada yang mempercayai jika bulan suro merupakan bulan paling buruk dalam satu tahun. Beberapa orang menganggap bahwa di bulan suro terdapat banyak sekali musibah dan bencana yang menimpa. Tak heran jika orang-orang jawa pada masa lalu menghindari berbagai pesta upacara pada bulan ini termasuk pesta perkawinan dan hajatan lain.

Di lain sisi masyarakat jawa yang kental akan mitos dan kejawen meyakini bahwa musibah dan bencana dapat ditolak dengan cara melakukan ritual tertentu. Karena itulah kemudian dikenal beberapa tradisi malam 1 suro di beberapa daerah.

Kembalinya Arwah Leluhur Ke Rumah

Sebagian masyarakat jawa pada masa lalu lebih sakral lagi dalam menanggapi datangnya pergantian tahun Hijriyah. Tidak sedikit diantara mereka meyakini jika pada malam tersebut arwah leluhur yang telah meninggal dunia akan kembali dan mendatangi keluarganya di rumah.

Meski belum ada sumber yang mengatakan jika mereka melihat kedatangan arwah leluhur namun dari cerita yang terhimpun menyatakan jika cerita ini masih cukup mistis di kalangan masyarakat jawa. Tak cukup sampai di sini beberapa orang menambahkan peristiwa lebih seram lagi dimana mereka meyakini jika pada malam satu suro arwah dari orang-orang yang menjadi tumbal pesugihan akan dilepaskan dan diberi kebebasan pada malam tersebut sebagai hadiah pengabdiannya selama setahun penuh.

Fakta Malam Satu Suro 2016

  • Jatuh pada malam minggu kliwon bertepatan dengan tanggal 1 - 2 Oktober 2016.
  • Diapit 2 hari yakni sabtu wage dan senin legi.
  • Bertepatan dengan datangnya tahun baru Islam 1438 Hijriyah.
  • Akan ada peringatan di beberapa wilayah di Indonesia mulai dari mubeng beteng di yogyakarta, kirab kebo bule di solo, dan peringatan lain seperti doa bersama dan pertunjukan wayang kulit di beberapa daerah.

Ritual Malam 1 Suro yang Kerap Dilakukan

Jamasan atau memandikan benda pusaka

Bagi pemegang benda pusaka baik berupa keris, cemeti, tombak, dan lain sebagainya mereka akan melakukan jamasan benda keremat tersebut menggunakan beberapa media seperti air kelapa, jeruk nipis, dan kembang atau bunga. Ritual ini tidak hanya dilakukan oleh pribadi pewaris penda pusaka melainkan juga dilakukan oleh beberapa kerajaan seperti Yogyakarta, Surakarta, dan beberapa keraton lain.

Menurut beberapa penuturan, ritual ini dilakukan sebagai bukti perhatian mereka terhadap khodam di dalam pusaka tersebut entah itu dalam wujud keris semar mesem, keris omyang jimbe, keris setan kober, dan lain sebagainya.

Mubeng Beteng di Kraton Yogyakarta

Tradisi mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dilakukan berarak-arak yang terlebih dahulu diawali dengan beberapa ritual seperti pemandian pusaka, pembacaan doa, dan lain sebagainya. Ratusan bahkan ribuan warga yang hadir untuk mengikuti tradisi mubeng beteng biasanya datang dari berbagai daerah baik dari wilayah Yogyakarta seperti Bantul, Sleman, dan Kulonprogo dan wilayah lain seperti Cilacap, Semarang, Wonogiri, dan sebagainya.

Perlu diketahui proses mubeng beteng biasanya dilakukan tepat pada pukul 00.00 WIB dan dilakukan tanpa suara (tapa bisu). Rute perjalanan biasanya dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam dengan start Halaman Keraton ke Alun-alun Utara kemudian menuju ke barat melalui jalan kauman hingga pojok beteng lor lanjut ke arah kiri menuju Pojok Beteng Kulon melalui Jalan Wahid Hasyim dan dilanjutkan ke arah timur hingga Pojok Beteng Wetan melalui Jalan MT. Haryono. Setelah sampai ke Pojok Beteng Wetan rombongan akan melanjutkan perjalanan ke arah utara kemudian ke barat hingga kembali ke titik start Yakni Alun-Alun Utara dan kembali ke halaman keraton.

Kirab Kebo Bule Kasunanan Surakarta

Sebagai kerajaan pewaris Mataram Islam Kasunanan Surakarta juga memiliki tradisi yang tidak kalah menarik dari Keraton Yogyakarta. Jika di Yogyakarta dikenal ritual mubeng beteng di Solo  Surakarta tradisi menyambut datangnya tahun baru islam juga dilakukan dengan beberapa ritual salah satunya ialah kirab kebo bule.

Kebo bule merupakan hewan kerbau yang disakralkan oleh Keraton Surakata dan masyarakat di wilayahnya. Untuk mengetahui lebih jelas tentang tradisi ini kita dapat membaca ulasan sebelumnya tentang ritual malam satu suro Kasunanan Surakarta.

Kungkum di Kali

Berbeda dari ketiga tradisi sebelumnya warga semarang melakukan ritual cukup nyentrik saat datang malam satu suro. Ritual tersebut adalah kungkum di sungai area tugu soeharto berdiri, tempat ini berada di Benda Duwan, Gajahmungkur, Semarang.

Jika Anda sempat melewati area ini Anda akan melihat kerumunan orang baik yang berada di atas maupun sedang melakukan ritual kungkum di tempat tersebut. Menurut cerita yang berkembang masyarakat melakukan ritual di tempat ini untuk meminta berkah sekaligus membuang sial. Dalam sejarahnya tugu tempat yang menjadi pertemuan antara Kali Garang dan Kali Kreno ini pernah menjadi saksi bisu perjuangan Pak Soeharto pada masa penjajahan. Karena peristiwa inilah kemudian masyarakat semarang percaya jika tempat tersebut merupakan tempat sakral dan penuh mistis.

Selain ritual di atas sebenarnya masih banyak lagi tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriyah seperti tirakatan, tapa bisu, ruawatan masal, pertunjukan wayang kulit, kirab budaya, dan lain sebagainya. Demikian sedikit cerita tentang fakta dan mitos malam satu suro 2016 semoga menghibur.

Selasa, 20 September 2016

Kasrin Si Tukang Becak Naik Haji Secara Ajaib, Dikabarkan Hilang Di Rembang Tiba-tiba Berada Di Makkah

Nama Kasrin, tiba-tiba saja menjadi pembicaraan khalayak ramai. Pasalnya, Tukang becak yang bernama lengkap Kasrin bin Sumarto (60), warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang Jawa Tengah ini tiba-tiba berangkat naik haji secara ajaib. Dia berangkat haji tanpa pernah melalui pendaftaran.




Kasrin Si Tukang Becak Ini Naik Haji, Menghilang di Rembang Muncul di Makkah. FOTO Jumiati, istri Kasrin, menunjukkan foto suaminya yang saat ini diketahui berada di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, meski tidak pernah mendaftarkan diri secara resmi. (Koran Muria)

Kisah aneh tapi nyata ini sontak menghebohkan para tetangga dan saudaranya. Termasuk teman-temannya menarik becak sehari-hari di wilayah Lasem, Rembang.

Warga menduga Kasrin bisa naik haji secara ajaib karena dibantu makhluk lain. Bahkan, hingga hari ini Kasrin masih berada di Makkah, bersama jutaan jamaah haji lainnya untuk menyempurnakan rukun Islam.

Sebagian besar tetangga Kasrin tak percaya jika Kasrin telah naik haji dan kini berada di Makkah. Perangkat Desa Sumberejo, Siwoyo, mengaku bingung dengan kejadian ini.

"Saya memang heran. Selama ini tidak pernah terdengar kabar Kasrin hendak menunaikan ibadah haji. Kapan mendaftarnya juga tidak diketahui, termasuk juga tidak pernah ikut dalam manasik haji," terangnya.

Siwoyo merupakan tetangga satu RT dengan Kasrin. Dia sebagai perangkat desa mengaku tak pernah dimintai tolong untuk urus administrasi pendaftaran haji si Kasrin itu.

”Baik mulai dari desa maupun ke tingkat lainnya. Itu yang membuat heran kami. Karena kalau memang berangkat haji, biasanya kan mengurus surat-surat terlebih dahulu. Ini tidak ada sama sekali,” terangnya.

Awalnya, Malam itu Selasa (23/8/2016) Siwoyo bersama ratusan warga termasuk Kasrin turut mengantarkan calon jamaah haji dari desa Sumberejo yang akan berangkat haji.

Disinilah keanehan mulai terjadi. Kasrin yang diketahui tidak memakai seragam haji, tiba-tiba dikabarkan hilang.

Dia hanya pergi dengan membawa kemeja putih, celana hitam, peci, dan tas kecil saja.

"Pokoknya jauh dari gambaran orang yang mau haji," ungkapnya.

Serasa tak masuk akal. Kasrin bisa begitu cepat sampai ke Makkah, mendahului rekan-rekan jamaah haji lainnya dalam satu 'kloter' kala itu.

Kepala Desa (Kades) Kalitengah, Kecamatan Pancur, Ansori yang juga masih kerabat Kasrin, juga dibuat heran dengan kejadian ini.

Ia heran bukan kepalang karena tidak percaya Kasrin yang masih pakdenya itu tiba-tiba saja berangkat haji, bahkan malam itu Ansori berada di samping Kasrin hingga di Masjid Lasem.

Bahkan tas kecil milik Kasrin, dibawa olehnya. "Waktu menunggu keberangkatan rombongan, tiba-tiba perut saya mules."

"Saya lantas minta kerabat saya lainnya bernama Lutfi, untuk menunggu pakde. Hanya saja, saat bersama Lutfi itu, pakde bilang akan keluar masjid."

"Alasannya beli rokok. Waktu dibuntuti Lutfi, tiba-tiba saja Pakde Kasrin sudah tidak ada. Dia menghilang begitu saja,” paparnya.

Saat sedang mencari Kasrin itulah, Ansori diberitahu bahwa orang yang dicarinya ada di bagian selatan Masjid Lasem.

Tidak lama dicari ke lokasi tersebut, ada yang mengatakan jika Kasrin sudah naik bus rombongan haji asal Kecamatan Kragan/Sarang.

Dia terlihat duduk di belakang sopir bus. Bahkan sempat melambaikan tangan berpamitan.

Keanehan lain muncul, karena sekitar pukul 23.00 WIB, Kasrin diketahui menelepon keluarganya dan mengatakan sudah sampai di Gedung Haji Rembang, tempat jamaah haji seluruh kabupaten Rembang berkumpul.

Dia bilang siap untuk diberangkatkan ke Asrama Haji Donohudan Solo. Padahal, waktu itu rombongan haji dari Masjid Lasem belum berangkat.

"Soalnya, pemberangkatan haji malam itu memang akan dilakukan pukul 01.30 WIB," terang Ansori.

Ansori makin kebingungan, karena sekitar pukul 01.30 WIB, atau pada Rabu (24/8/2016), Kasrin menelepon bahwa dirinya sudah akan berangkat ke Makkah.

Tepatnya, Kasrin mengatakan sudah naik pesawat. Dia juga menceritakan jika duduk bersama empat orang jamaah calon haji lainnya.

”Gimana tidak bingung. Dia menelepon dan bilang ada di dalam pesawat. Padahal, setahu saya kalau di dalam pesawat, semua telepon kan harus dimatikan."

"Tapi dari suara-suara di pesawat, terdengar ada pramugari yang menawarkan makanan, memakaikan sabuk pengaman. Terdengar jelas," terangnya.

Keanehan makin menjadi-jadi. Dua hari usai keberangkatan, Kasrin mengaku sudah berada di Makkah.

Bahkan, Kasrin menelepon dirinya dan mengatakan akan pulang sebentar. Dirinya akan pulang sebentar, karena ada keluarga yang menginginkan dirinya pulang.

"Dia bilang ke saya, tunggu di jalan Lasem jam 11. Pas saya tunggu. Eh, benar. Pakde saya itu tiba-tiba datang membawa kardus besar."

"Isinya teko, cangkir, dan perabotan rumah tangga khas Timur Tengah. Yang biasa dibawa oleh-oleh haji pokoknya. Habis itu, pakde saya hilang lagi," jelasnya.

Ansori mengatakan dirinya heran kenapa semua proses yang dijalankan Kasrin berhaji, tidak seperti calon haji lainnya.

Bahkan, penggunaan telepon genggam untuk menghubungi keluarga di Indonesia, juga masih menggunakan nomor yang sama saat di Rembang.

"Saya juga pusing kalau mikirin pakde saya itu, entah bagaimana itu maksud pakde saya gak tahu" pungkas Ansori.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Kantor Kemenag Rembang, Atho'illah, mengatakan pada tahun ini terdapat 791 jemaah haji yang terdaftar di Kantor Kemenag Rembang. Dari jumlah tersebut, menurut dia, tidak ada nama Kasrin.

Sehingga, ditandaskan, dapat dipastikan Kasrin tak berangkat haji melalui pendaftaran di Kantor Kemenag setempat.

"Ditanya beliau berangkatnya bagaimana, saya juga belum bisa menjawab. Yang jelas, dari 791 daftar jamaah di sini, tak ada nama beliau," kata Atho'illah kepada Tribun Jateng, Minggu (12/9).

Disinggung apakah ada kemungkinan Kasrin berangkat dengan mendaftar melalui Kantor Kemenang di wilayah lain, Atho'illah juga tak dapat memastikan. Pun demikian apakah Kasrin termasuk dalam rombongan jamaah haji ilegal yang saat ini sedang ramai diperbincangkan, juga tak dapat dipastikan.

"Kalau mendengar cerita yang beredar, sepertinya ini di luar logika," ucapnya.

Diterangkan, untuk dapat memasuki pesawat terbang bersama calon jamaah haji lain, seseorang harus bisa menunjukkan paspor, visa, dan persyaratan lain yang telah ditentukan. Sehingga, kecil kemungkinan Kasrin terbang satu pesawat dengan calon jamaah haji lain asal Rembang.

"Logikanya seperti itu, tapi kan belum dapat dipastikan dikonfirmasi langsung ke beliaunya," tuturnya.

Ditegaskan Atho'illah untuk menelusuri dan meluruskan cerita-cerita yang saat ini ramai diperbincangkan, pihaknya akan mendatangi kediaman Kasrin, setelah yang bersangkutan pulang dari tanah suci.

"Ya nanti kalau beliau sudah pulang, kembali ke rumah, kami akan menemui beliau, mendengar langsung cerita dari beliau seperti apa," tuntasnya.

Selasa, 06 September 2016

Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?

Kuburan atau makam menjadi tempat terakhir bagi setiap manusia yang telah berpulang ke Rahmatullah. Namun di Banyuwangi terdapat sebuah makam yang tidak biasa lantaran memiliki panjang 7 meter dan terdapat di tengah hutan belantara, tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo.

Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?
Makam Mbah Dowo atau Mbah Panjang (Mohammad Ulil Albab/Merdeka.com)
Umumnya panjang suatu makam akan sedikit lebih panjang dari tubuh jasad yang terkubur di dalamnya. Namun jika makam tersebut berukuran 7 meter, siapakah orang yang berada di dalamnya?

Dilansir dari Merdeka (2/9/2016), menurut seorang penjaga makam bernama Asmat (55 tahun), makam dengan panjang 7 meter tersebut memiliki nama Kuburan Mbah Dowo atau Kuburan Mbah Panjang. Tidak ada bukti jelas mengenai apa yang berada di dalam makam tersebut. Namun Asmat meyakini bahwa di dalam kuburan tersebut tersimpan berbagai benda pusaka milik leluhur.

“Jadi ini belum ada yang tahu sejarah mulanya kapan. Ada yang menyebut ini petilasan (peninggalan pusaka) jadi bukan kuburan seperti umumnya. Petilasan leluhur zaman dahulu,” ucap Asmat.

Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?
Rumah Asmat, penjaga makam Mbah Dowo (Mohammad Ulil Albab/Merdeka.com)
Sementara itu rumah Asmat sendiri berada di samping kuburan Mbah Dowo. Sudah 8 tahun ia hidup seorang diri mengabdi menjadi penjaga makam. Dari cerita masyarakat, makam Mbah Dowo sudah ada sejak pembukaan area Perhutani dan Asmat merupakan penjaga makam yang kesembilan.

“Sebelum ada Perhutani sudah ada ini. Saya orang kesembilan yang jaga. Sebelum saya itu Pak Usman,” tuturnya.

Jika menurut Asmat isi makam tersebut adalah benda pusaka, maka menurut salah seorang warga isinya adalah seseorang bernama Eyang Suryo Bujo Negoro.

“Macam-macam ceritanya, kalau dari saya itu isinya bukan pusaka, tapi manusia,” ucap Sardi, salah seorang warga di area makam.

Sementara itu terkait alasan Asmat mengabdikan dirinya sebagai penjaga makam, ternyata ia ingin menguji kesabaran.

“Prinsipku di sini hanya menguji kesabaran. Meski banyak tantangan dan cobaan sampai delapan tahun. Yang jaga sebelum saya, banyak gak kuat kemungkinan ada tingkah yang tidak bagus,” ungkap Asmat.

Dituturkannya bahwa bahwa banyak orang yang berkeinginan atau iri melihat dirinya menjadi penjaga makam, namun lebih menjurus ke arah spiritual.

“Pernah mau dikeroyok orang, diusir orang, mau direbut tempatnya di sini. Ingin jadi dukun-dukun di sini. Alhamdulillah bisa bertahan di sini sampai 8 tahun,” pungkasnya. Sumber: KabarMakkah

Senin, 05 September 2016

Asal Usul Keris Naga Runting Pusaka Prabu Siliwangi dan Manfaatnya

Nama Keris Naga Runting sangat terkenal hingga seluruh pelosok nusantara. Meskipun tak ada yang dapat membuktikan secara langsung namun kesaktian dan asal usulnya yang penuh misteri membuat cerita tersebut terasa akrab terdengar di telinga kita. Sebilah pusaka yang konon dulu menjadi senjata pamungkas Prabu Siliwangi ini secara kasap mata memang terlihat menawan bagi siapa saja yang melihatnya.

Namun demikian tak banyak orang tahu tentang asal usul Keris Naga Runting yang diyakini sebagai salah satu pusaka Prabu Siliwangi ini. Dalam ulasan di bawah ini sedikit banyak akan kita singgung mengenai asal usul dan sejarah sekaligus khasiat atau manfaat dari jenis benda bertuah yang satu ini. Untuk itu pastikan Anda menyimak artikel berikut hingga usai.
Asal Usul Keris Naga Runting Pusaka Prabu Siliwangi dan Manfaatnya

Sejarah Asal Usul Keris Naga Runting

Keris ini juga akrab disebut dengan Naga Runting Makan Emas atau dalam bahasa jawanya “Ngemut Emas” diberikan karena pada pusaka ini terdapat setitik emas melekat pada lidah atau mulut naga yang menjadi bentuk utama dari pusaka tersebut.
Meski tidak ada sumber otentik tentang siapa pembuat keris pusaka yang kala itu menjadi pusaka piandel Prabu Brawijaya namun secara turun temurun masyarakat jawa meyakini jika pembuat keris sakti tersebut tak lain merupakan Empu kepercayaan Kerajaan Pajajaran yakni Empu Welang dan Empu Anjani. Menurut cerita yang beredar bahan yang digunakan sebagai pusaka tersebut adalah paku emas. Beberapa orang juga meyakini paku emas yang dimaksud merupakan hasil dari persemedian Prabu Siliwangi di kaki bukit Gunung Salak.

Sebagai Raja penuh kewibawaan Prabu Siliwangi berkeinginan memiliki sebilah pusaka tak tertandingi dari segi kesaktian dan keartistikan nya. Oleh karena itu beliau memanggil Empu Welang untuk membuatkan keris yang dimaksud. Singkatnya setelah mendengar keinginan Sang Raja Empu Welang memberikan saran agar Sang Prabu “menimbali” atau memanggil Empu Anjani guna membantu pembuatan keris pusaka yang dimaksud. Hal ini dilakukan Empu Welang dengan alasan bahwa Empu Anjani memiliki keahlian luar biasa dalam membuat bentuk keris dengan sempurna.

Semenjak perintah Sang Prabu diberikan kedua Empu tersebut mengawali pembuatan pusaka dengan bersemedi dan puasa selama 40 hari 40 malam sebagai ritual sakral untuk membuat pusaka tak tertandingi. Singkatnya setelah melewati beberapa proses paku emas telah berubah menjadi sepucuk keris luk 13 yang kemudian disempurnakan oleh Empu Anjani dengan memberikan tatahan berwujud kepala naga di pangkalnya serta butiran emas mengkilat di ujung lidah (mulut) sang naga.

Setelah keris tersebut jadi kemudian diberi nama Keris Naga Runting Makan Emas. Warangka dari bahan kayu cendana membuat keistimewaan pusaka tersebut tak tertandingi pada masanya.

Kedua Empu tersebut telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik dan kemudian menyerahkannya pada Sang Prabu Siliwangi pemilik tahta kerajaan pajajaran. Luar biasa senangnya Sang Prabu melihat pusaka yang dipesannya tersebut sangat sempurna. Karena keberhasilan itulah kemudian Empu Anjani dan Empu Welang diberi tanah tegalan di wilayah kerajaan sebagai hadiah.

Manfaat

Manfaat Keris Naga Runting andalan Prabu Brawijaya memang memiliki banyak tak terbantahkan. Beberapa fungsi dari pusaka tersebut diantaranya adalah:
  • Sebagai benteng diri dari kejahatan.
  • Sebagai sarana kewibawaan.
  • Sebagai kekebalan lantaran tuah atau khodam di dalamnya.
  • Sebagai pengayom dan disegani rakyat.
  • Dan lain sebagainya.
Dalam perkembangnya karena saking tenar dan terkenalnya Keris Naga Runting pada periode berikutnya bahkan sampai periode kerajaan islam di Indonesia banyak sekali para Empu yang membuat keris serupa yang berbentuk layaknya naga ber luk 13.

Beberapa Empu dan pandai besi juga melakukan inovasi dengan beragam bahan sehingga melahirkan jenis Keris Naga Runting Ngemut Inten (Intan) dan Sabuk Inten. Hingga saat ini masyarakat pemegang pusaka jenis Naga Runting merasa beruntung karena mendapatkan kepercayaan menjaga sekaligus merawat pusaka buatan para Empu pada masa lalu. Bahkan saking berharganya jenis pusaka ini tak jarang para kolektor berani membeli dengan harga ratusan juta rupiah demi sepucuk pusaka tersebut.