Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2017

Kurma Ajwa, Penangkal Racun dan Sihir

Kurma ajwa adalah kurma yang ditanam Rasulullah di Madinah.
Dari sekian banyak ilmu pengobatan yang disabdakan Nabi (thibbun nabawi), ini merupakan salah satu rahasia yang paling menarik; buah penangkal racun dan sihir. 
Kurma AJwa


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنِ اصْطَبَحَ كُلَّ يَوْمٍ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً ، لَمْ يَضُرُّهُ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ ذَلِكَ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ

“Barangsiapa makan beberapa kurma ajwa di setiap pagi hari, maka racun dan sihir tidak akan mendatangkan mudharat kepadanya pada hari itu hingga malam” (HR. Bukhari)

Ya, buah tersebut tidak lain adalah kurma ajwa. Namun tidak otomatis ketika ia dimakan, atas izin Allah ia menjadi penangkal racun dan sihir melainkan ada ketentuan waktu dan jumlahnya. Waktu memakannya adalah pagi hari. Lalu berapa jumlahnya? Pada hadits tersebut disebutkan beberapa. Artinya lebih dari satu. Berapa tepatnya? Hadits yang lain menjelaskan: 

مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa pagi hari makan tujuh kurma ajwa, maka racun dan sihir tidak akan mendatangkan mudharat baginya pada hari itu” (HR. Bukhari) Ternyata jumlah kurma ajwa yang dimakan di pagi hari sehingga dapat menghindarkan dari racun dan sihir itu adalah tujuh buah.

Lalu, apa itu kurma ajwa? Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud kurma ajwa adalah kurma yang ditanam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Ia merupakan kurma yang paling lembut di Madinah. Yang juga menjadi batasan dalam kedua hadits tersebut, manfaat kurma ajwa sebagai penangkal disebutkan bahwa waktunya adalah pagi hingga malam. Tidak bersifat mutlak bahwa begitu makan kurma ajwa selalu kebal dari racun dan sihir, melainkan hanya ditangkal mulai pagi itu hingga malam harinya. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: viva.co.id

Jumat, 28 Oktober 2016

Misteri Ayat Peringatan yang Diulang-ulang dalam Al-Qur'an

Al-Qur’an adalah salah satu mukjizat Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab tersebut diturunkan sebagai pedoman bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Inilah makna dibalik peringatan yang diulang-ulang yang terdapat dalam Surah Ar rahman yang merupakan salah satu surah di dalam Al-Qur’an.



Setiap surah di dalam Al-Qur’an memiliki keutamaan atau pelajaran tersendiri untuk menuntun umat manusia menuju jalan kebenaran. Ar Rahman memiliki ciri khas yang tidak dapat ditemukan di surah lainnya, yakni pengulangan ayat yang cukup banyak. Ayat tersebut berarti bahwa ‘maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Diketahui bahwa ayat tersebut diulang sebanyak 31 kali di dalam surah Ar Rahman. Manfaat Surat Ar Rahman ini tidak hanya ditujukan pada manusia saja, tetapi juga pada bangsa jin.

Lalu apakah yang menjadi alasan kalimat tersebut diulang-ulang hingga 31 kali?. Allah telah memberikan banyak nikmat dan anugerah pada umat-Nya. Setelah itu, ia menanyakan pada makhluknya “Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah berkaitan dengan pemilihan kata dusta bukan ingkar. Hal itu membuktikan bahwa Allah telah memberikan nikmat kepada manusia sehingga kita tidak dapat mengingkari keberadaanya. Kata dusta memiliki arti menyembunyikan kebenaran, kata ini berdekatan dengan arti kesombongan dimana seringkali diartikan sebagai penolakan akan kebenaran atau bahkan menyepelekan hal lain di luar dirinya.

Fenomena seperti ini telah banyak terjadi di sekitar kita. Sebagai contohnya adalah ketika kita mendapatkan uang. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa uang tersebut kita dapatkan dari jerih payah atau usaha keras yang telah kita lakukan. Kita lupa akan peran Allah dalam memberikan rezeki pada setiap umat-Nya.

Selain itu, hal ini juga sering terjadi pada orang-orang yang sukses atau menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan toga. Sebagian di antara mereka lupa bahwa hal tersebut merupakan salah satu anugerah yang diberikan oleh Allah pada kita.

Sebagai hamba Allah janganlah kita lupa akan nikmat dan anugerah yang diberikan oleh Allah. Hal inilah yang menjadi dasar pertanyaan Allah mengenai kenikmatan-Nya yang telah didustakan.

Dalam sebuah surah dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa harta, anak, cucu, pasangan hidup, kesuksesan merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas titipan Allah tersebut.

Kenikmatan dunia membuat sebagian orang lupa, bahwa apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Sekaligus apa yang menjadi milik kita sekarang merupakan hak Allah dimana Dia berhak mengambil kapanpun titipan tersebut. Oleh karena itu sepatutnya jika kita senantiasa bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kehidupan dan dapat merasakan keindahan dunia ini. Rasa syukur ini dapat kita ungkapkan dengan beribadah sebanyak-banyaknya pada Allah dengan hati ikhlas. Inilah yang ada pada keutamaan Surat Ar Rahman.

Sungguh banyak manusia yang memiliki sifat pelupa. Mereka lupa bahwa Allah yang telah memberikan mereka kehidupan, memberikan mereka nafas dan semua yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, Allah memberikan peringatan secara berulang-uang agar kita tidak melupakan kewajiban kita untuk bersyukur dan menyembah pada Allah. Bahkan dalam sebuah surah dijelaskan bahwa jika kita ingin menghitung-hitung nikmat Allah yang telah diberikan, maka kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Hal ini dikarenakan banyaknya nikmat Allah.

Peringatan ini dapat dijadikan sebagai titik fokus kita hidup di dunia ini karena kita memiliki kewajiban sebagai seorang hamba, yakni dengan senantiasa bersyukur dan menyembah-Nya. Sumber: viva

Jumat, 05 Agustus 2016

Kisah Ulama Yang Sudah Dikubur dan Hidup Kembali

Suatu saat, Abdullah bin Umar Al Baidlawi sudah dianggap meninggal oleh orang-orang di sekitarnya. Usai dirawat sebagaimana jenazah pada lazimnya, ia dikebumikan dan diratakan tanah di atas pusaranya. Namun, setelah dikubur, Abdullah ternyata belum mati. Hanya jantung dan napasnya yang berhenti sementara.

Demikian dikatakan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar dari Hadramaut, Yaman saat menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang mati suri dalam acara Haflah Akhir Sanah Pesantren Darut Tauhid Al Huda, Jatilawang, Wanayasa, Banjarnegara.

Ia melanjutkan, karena orang tersebut hidup namun tidak bisa keluar dari dalam kuburan, Abdullah bin Umar kemudian bernadzar. Jika saya bisa hidup kembali ke dunia sebagaimana semula, aku bernadzar akan menafsiri Al-Qur’an.

Ternyata, tidak sampai selang waktu lama, ada seorang yang berprofesi sebagai pencuri kain kafan datang menggali kuburan di mana Abdullah dikebumikan. Ia kaget bukan kepalang. Jenazah yang ia gali dapat bergerak sendiri. Ia pun lari tunggang-langgang.

Habib muda ini melanjutkan, jenazah yang hidup lagi ini lalu menyeru kepada pencuri, “Hai, jangan lari, kemari! Begini, kamu ini ingin mencuri kain kafanku bukan?”

“Iya,” jawab pencuri.

“Sekarang, bawalah kain kafanku ini dan katakan kepada orang kampung suruh mereka mengirimkanku pakaian kemari,” pesan Abdullah. Dan benar, setelah kembali, Abdullah bin Umar ini menyusun tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil yang terkenal dengan Tafsir Al-Baidlawi.

Habib Muhdlar menyimpulkan dengan adanya kisah tersebut, bahwa siapa pun dalam memutuskan perkara harus ada kalimat wallahu a’lam. Manusia hanya memutuskan yang tampak lahir saja. Sedangkan hakikatnya hanya Allah yang maha tahu.

“Seperti dokter di akhir zaman ini yang langsung memvonis mati salah satu pasien, misalnya. Mereka tanpa mengatakan allahu a‘lam. Padahal ini hanya pengetahuan saja. Bukan hakikat sebagaimana yang terjadi dalam cerita di atas,” tandasnya.

Maka tak jarang, lanjutnya, banyak orang mati yang hakikatnya belum mati namun ia mati justru baru saat ia dikubur, karena ia tak bisa bernapas atau yang lainnya sedangkan dokter memang sudah memberikan vonis mati. Di sinilah pentingnya kalimat allahu a’lam.

Terakhir, dai dari Yaman ini berpesan supaya tidak terlalu terburu-buru dalam mengurus jenazah. Cepat itu perlu, tapi jangan terlalu. Ciri-ciri orang mati setidaknya ada tiga hal, di antaranya hidung yang sudah melenceng, seperti meleleh ke samping, telapak kaki yang sudah tidak tegak ke atas, dan mulut yang berbau busuk.

Sumber:indospiritual.com

Rabu, 11 Mei 2016

Misteri 32 Tahun Kekuasaan Mantan Presiden Soeharto

Tanpa terasa, bangsa Indonesia hampir 7 tahun ditinggalkan tokoh yang pernah memimpinnya selama 32 tahun, Haji Muhammad Suharto, (1966-1998). Tepatnya pada tanggal 27 Januari 2008, mantan Presiden Suharto wafat dalam usia 86 tahun dan dimakamkan di Bukit Mengadeg, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Mantan penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu dikenal sebagai penguasa Nusantara yang paling luas dan besar wilayah kekuasaannya jika dibandingkan dengan penguasa lainnya seperti Ken Arok, Raden Wijaya, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Sultan Fatah (Raden Patah), Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir), Sultan Agung Hanyokrokusumo bahkan Presiden Sukarno. Sebab di era Sukarno, East Timor masih dibawah Portugis, sementara di era Suharto masuk wilayah NKRI. Begitu besar dan luas kekuasaannya, menjadikan Presiden Suharto bagikan Kaisar Nusantara.

Memang lawan apalagi kawan pasti mengakui, tokoh kelahiran Desa Kemusu, Kecamatan Argomulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 8 Juni 1921 itu adalah tokoh besar terlepas dari jasa dan dosanya bagi bangsa dan negara. Betapa tidak, Suharto yang dimasa kecilnya penuh dengan penderitaan sehingga sampai usia 10 tahun telah 6 kali gonta ganti orang tua asuh itu, ternyata setelah dewasa menjadi pemimpin nasional bahkan internasional. Seandainya orang tahu akan masa depan Suharto yang akhirnya jadi Presiden RI, pasti semua berebut ingin menjadi orang tua asuh bayi merah yang ketika berusia 15 hari, kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai tersebut. Namun nasib seseorang adalah misteri kehidupan, hanya Allah Swt yang mengetahuinya.

Suharto menjabat Presiden dalam usia cukup muda 46 tahun dengan pangkat Jenderal bintang tiga dan berkuasa tiada tanding tiada banding selama 32 tahun. Semua lawan politiknya dibuat tidak berkutik dengan kekuasaan otoriternya dan kelihaiannya dalam berpolitik, sampai dirinya terpaksa lengser keprabon pada 21 Mei 1998. Seandainya waktu itu Presiden Suharto tidak mengundurkan diri dan nekat bertahan meski mendapat desakan kuat dari para mahasiswa yang menduduki Gedung DPR-MPR, barangkali reformasi akan mundur 10 tahun ke belakang hingga Presiden Suharto wafat, sebagaimana para penguasa otoriter yang berkuasa hingga akhir hayatnya.

Seharusnya kalau mau dan tega demi kelanggengan kekuasaannya, Presiden Suharto dengan mudah bisa memerintahkan menantunya yang juga Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo Subiyanto untuk mengerahkan cukup satu batalyon Kostrad dibantu Kopassus untuk “membersihkan” Gedung DPR-MPR dari pendudukan mahasiswa, meski harus dibayar mahal dengan korban jiwa. Namun Suharto bukanlah Deng Xiao Ping, Ferdinand Marcos, Hafez al Assad dan anaknya Bashar al Assad, Housni Mubarak, Muammar Khadafi dan para diktator lainnya, yang dengan kejam dan tega menumpahkan darah mahasiswa dan rakyatnya demi mempertahankan kekuasaannya. Meski berkuasa secara otoriter, Presiden Suharto bukanlah ‘si raja tega’, tetapi dia adalah pemimpin yang masih memiliki hati nurani meski harus mengorbankan kekuasaannya sekaligus masa depan keluarganya.

Jasa dan Dosa

Memang diakui, Presiden Suharto memiliki jasa besar terhadap bangsa dan negaranya, namun kesalahannya atau dosanya juga tidak kalah besarnya. Adapun jasa besar mantan Presiden Suharto terhadap bangsanya adalah:

Pertama, berhasil membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedua, menjadikan perekonomian stabil bahkan berkembang pesat dari semula terpuruk berat di akhir era kekuasaan rezim Sukarno. Ketiga, menjadikan politik stabil meski harus mengorbankan kebebasan rakyatnya. Keempat, menjadikan Indonesia negara paling stabil dan aman di Asia bahkan dunia. Kelima, kesejahteraan rakyatnya terjamin dengan murahnya berbagai harga pangan dan kebutuhaan pokok lainnya. Keenam, Indonesia berhasil swasembada pangan di era pemerintahannya. Ketujuh, menjadikan Indonesia negara yang disegani dan dihormati di Asia Tenggara, Asia bahkan dunia dengan kekuatan militernya. Kedelapan, puncak keberhasilan pendidikan terjadi di era Presiden Suharto, dari mayoritas rakyat buta huruf dan berpendidikan SD, menjadi melek huruf dan gudangnya para sarjana dan ilmuan terkemuka, dan sederetan prestasi gemilang lainnya.

Namun tidak sedikit pula kesalahan dan dosa Presiden Suharto yang berkuasa secara diktatorial dan otoriter selama 32 tahun. Adapun berbagai dosa Presiden Suharto antara lain: terjadinya berbagai kasus pembantaian yang melanggar HAM berat seperti Tanjung Priok dan Lampung, pemaksaan Asas Tunggal Pancasila, monoloyalitas PNS terhadap Golkar, pembredelan demokrasi, pembungkaman pers, memperkaya keluarga dan inner-circle kekuasaannya, membantu klik Cina konglomerat hitam pemilik bank yang collaps sehingga menimbulkan mega skandal BLBI sebesar Rp 660 triliun, pembunuhan dan pembungkaman lawan politik termasuk para aktivis Islam, penculikan para aktivis mahasiswa, memperkosa UUD 1945 sehingga dapat dipilih lagi sampai tujuh periode serta menghambat munculnya regenerasi kepemimpinan nasional dan lain sebagainya.

Sebagai dampak dari policy Suharto tersebut, saat ini Indonesia tergolong negara dengan hutang luar negeri lebih dari seratus miliar dolar AS hingga sulit terbayarkan dalam beberapa generasi. Sementara kekayaan alam nasional dikuasai beberapa perusahaan asing, hutan Indonesia habis digunduli, KKN sudah menjadi budaya birokrasi dan sebagainya. Memang diakui Suharto memiliki jasa bagi bangsa ini, namun kerusakan dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukannya selama berkuasa tidak kalah besarnya daripada jasanya kepada bangsa dan negara. Sehingga dapat dikatakan akhir kekuasaan Suharto adalah suul khotimah bukan khusnul khotimah, karena terpaksa lengser keprabon. Akhir kekuasaan Presiden Suharto hampir sama dengan akhir kekuasaan Presiden Sukarno, meski dengan sebab dan kasus berbeda.

Misteri

Memang kehidupan, kekuasaan hingga wafatnya Presiden Suharto diliputi misteri, mistisisme hingga klenikisme kejawen. Ketika Suharto mulai berkuasa pasca tragedi G30S/PKI 1965, dihubung-hubungkan dengan musibah banjir besar yang melanda Kota Solo, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Sementara menjelang Suharto wafat, Kota Solo dimana Ibu Tien Suharto berasal juga dilanda banjir, sementara tanah longsor terjadi di Karanganyar dimana menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Sedangkan kejatuhan Presiden Suharto dihubung-hubungkan dengan kematian Ibu Tien (1994). Pasalnya, Ibu Tien dianggap yang memiliki “wahyu” kekuasaan karena berasal dari trah darah biru keturunan Mangkunegaran, Solo. Namun ketika Ibu Tien wafat, maka “wahyu” itu ikut minggat dan secara otomatis tongkat yang menopang kekuasaan Suharto roboh karena dimakan rayap, sebagaimana tongkat yang menopang badan Nabi Sulaiman As menjelang akhir hayatnya. Namun semuanya itu hanyalah rekayasa yang jauh dari kebenaran bahkan mengandung klenik kejawen. Sesungguhnya ada beberapa misteri selama 32 tahun kekuasaan Presiden Suharto yang belum berhasil diungkap hingga sekarang.

Pertama, siapa sesungguhnya dalang utama tragedi 1965 G30S/PKI yang menelan korban hingga 500 ribu orang itu dan hampir saja menghancurkan kesatuan NKRI. Apakah Mao Tse Tung, Kruchev, Sukarno, Aidit ataukah Suharto sendiri. Tetapi yang jelas, setelah itu dengan senjata Supersemar, Pangkostrad Mayjen TNI Suharto berhasil menumpas PKI hingga keakar-akarnya, meski sebelumnya PKI merupakan partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Partai Komunis Cina dan Partai Komunis Rusia yang sudah berhasil berkuasa di kedua negara raksasa komunis tersebut.

Kedua, siapakah dalang utama pembantaian 500 umat Islam di Jakarta termasuk pemimpinnya As Syahid Amir Biki yang dikenal dengan Tragedi Tanjung Priok (12/8/1984), apakah Presiden Suharto, Pangab Jenderal TNI LB Moerdani ataukah Pangdam Jaya Mayjen TNI Try Surtisno. Karena sampai saat ini belum pernah ada pengadilan atas pelanggaran HAM berat terhadap ketiganya, apalagi sekarang hanya Try Sutrisno yang masih hidup. Juga belum terungkap siapakah dalang Tragedi Talangsari, Lampung (1989), apakah Danrem Garuda Hitam, Kolonel Inf AM Hendro Priyono, ataukah masih ada dalang utamanya. Memang hingga sekarang ini, belum pernah ada pengadilan terhadap mantan Kepala BIN ini dalam kasus pelanggaran HAM berat di Talangsari, Lampung.

Ketiga, mengapa setelah 10 tahun lengser dari kekuasaan hingga akhir hayatnya (27 Januari 2008), tidak ada satupun Presiden Indonesia yang berani membawa mantan Presiden Suharto ke Pengadilan, apakah dalam kasus korupsi, pelanggaran HAM berat ataukah kasus lainnya. Baik Presiden BJ Habibie, Gus Dur, Megawati ataupun SBY semuanya bungkam seribu bahasa ketika ditanya mengapa tidak mau mengadili Pak Harto yang jelas-jelas menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power) selama 32 tahun berkuasa.

Keempat, tepat 16 tahun setelah lengser keprabon, tampillah wong Solo memimpin negara ini, Presiden Jokowi. Meski Pak Harto asli Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi Ibu Tien asli Wonogiri Solo dan masih keturunan darah biru Mangkunegaran Solo. Bahkan pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien (1946), juga dirayakan di Kota Solo. Sedangkan Presiden Jokowi dan istrinya Iriana, sama-sama asli Solo. Jadi sesungguhnya antara mantan Presiden Suharto dan Ibu Tien serta Presiden Jokowi dan Ibu Iriana masih memiliki hubungan “kekerabatan” karena sama-sama wong Solo.

Namun yang menimbulkan pertanyaan adalah, apakah keberhasilan kepemimpinan Presiden Jokowi nantinya akan sama dengan suksesnya Presiden Suharto dalam membangun dan memimpin Indonesia ? Tetapi yang jelas, keberhasilan Presiden Jokowi dalam memimpin negara bisa diukur pada Pemilu dan Pilpres 2019 nanti. Jika nanti Presiden Jokowi mencalonkan diri lagi dan ternyata terpilih kembali untuk periode keduanya, hal itu menunjukkan rakyat menilai Presiden Jokowi berhasil pada periode pertama pemerintahannya sebagai Presiden RI. Namun jika gagal, hal itu menunjukkan rakyat menganggap Presiden Jokowi telah gagal dalam memimpin Indonesia. Sehingga Presiden Jokowi tidak bisa disejajarkan dengan Presiden Suharto dalam memimpin bangsa dan negaranya, meski keduanya masih memiliki hubungan “kekerabatan” karena sama-sama wong Solo. Namun, dari gejolak dan kontroversi yang terjadi saat ini, mampukan Jokowi menjadi presiden sukse?[sumber: voa-islam.com]

Selasa, 03 Mei 2016

Misteri Di Balik Air Zam Zam yang Tidak Pernah Habis

Misteri Di Balik Air Zam Zam yang Tidak Pernah Habis
Air zam zam adalah sumber mata air yang paling aneh dan unik di dunia. Pasalnya sejak dulu air tersebut tidak pernah habis. Walaupun memasuki musim haji di mana jutaan orang mengambil air tersebut, sumber air tersebut tidak pernah kering sekalipun. Selain itu, air zam zam juga memiliki banyak keajaiban. Tentu kita merasa penasaran dengan hal tersebut.

Berapa banyak air yang dikuras setiap kali musim haji? Jamaah haji yang datang dari seluruh belahan dunia setiap musim haji umumnya berjumlah sekitar 2 juta jamaah. Semua jamaah mendapatkan 5 liter air zam zam saat pulang ke tempat asalnya. Jika 2 juta orang pulang dengan masing-masing 5 liter air zam zam ke negaranya, setidaknya sudah 10 juta liter air yang diambil. Ini belum termasuk kebutuhan konsumsi para jamaah haji yang berada di sana selama 25 hari di mana tiap orang menghabiskan setidaknya 1 liter air sehari. Jadi totalnya sudah mencapai 50 juta liter.

Seorang doktor asal Mesir pada tahun 1971 mengatakan pada Pers Eropa bahwa air zam zam tidak sehat untuk dikonsumsi. Dasar asumsinya adalah karena kota Mekah berada di bawah garis laut. Menurut dokter Mesir tersebut, air zam zam berasal dari air sisa atau limbah warga kota Mekah yang meresap dan mengendap yang kemudian terbawa bersama dengan air hujan setelah itu keluar di sumur zam zam.

Akhirnya, berita itu sampai ke Raja Faisal. Raja pun mengutus Menteri Pertanian dan Sumber Air agar menyelidiki masalah tersebut. Raja pun kemudian mengirim contoh air zam zam ke berbagai laboratorium di Eropa untuk diuji. Insinyur kimia bernama Tariq Hussain yang bertugas di Jedah mendapatkan mandat untuk menyelidikinya. Saat memulai tugas, Tariq belum memiliki gambaran bagaimana sumber air zam zam dapat menyimpan air yang sangat banyak seolah tidak ada batasnya. Ia ingin memecahkan misteri air zam zam yang tidak pernah habis.

Tariq sangat terkejut saat melihat bahwa ukuran sumur tersebut hanya sekitar 5 x 4 meter. Tentu sulit dibayangkan sumur yang kecil ini dapat mengeluarkan jutaan liter air setiap musim haji. Hal tersebut juga sudah berlangsung selama ribuan tahun silam sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Berdasarkan hasil penelitian, mata air zam zam dapat memancarkan air 11 – 18 liter per detik. Jadi setiap menit dapat dihasilkan 660 liter air. Fakta ini tentu sangat mencengangkan.

Baca: Inilah Misteri Batu Al Naslaa, Batu Terbelah Sempurna di Arab Saudi

Tariq mulai mengukur berapa kedalaman air sumur zam.zam. Beliau meminta asistennya untuk masuk ke dalam. Air sumur itu ternuata hanya mecapai bahu asistennya yang tingginya 5 ft 8 inch. Kemudian ia meminta asistennya untuk memeriksa jika mungkin ada saluran pipa atau cerukan di bawahnya. Namun setelah memeriksa semua tempat ternyata tak ada apapun.

Beliaupun berpikir apakah mungkin air sumur ini disuplai dari luar lewat saluran pompa yang berkekuatan besar. Jika kejadiannya seperti itu, ia dapat melihat naik turunnya permukaan air secara signifikan. Namun dugaan Tariq ini tidak terbukti karena tidak ditemukan adanya gerakan air mencurigakan dan tidak ada alat yang dapat menyuplai air dalam jumlah yang besar.

Kemudian, Tariq meminta asistennya masuk kembali ke dalam sumur kemudian memintanya berdiri dan diam sambil mengamati sekitarnya. Tidak lama setelah itu, asistennya mengatakan bahwa di bawah telapak kakinya pasir halus seolah menari-nari dan air tersebut keluar dari dasar sumur.

Kemudian asistennya diminta untuk mengelilingi sumur saat pemompaan air yang akan dialirkan ke tempat distribusi air. Asisten tersebut merasakan bahwa jumlah air yang keluar dari dasar sumur itu sama besar seperti sebelum dipompa. Aliran air yang muncul jumlahnya sama di tiap titik sehingga permukaan sumur tersebut relatif stabil dan tidak menimbulkan guncangan besar.

Setelah air zam zam diteliti di Saudi Arabia dan Eropa, menunjukkan bahwa air zam zam mengandung fluorida yang efektif untuk membunuh kuman seperti sudah mengandung obat. Perbedaan antara air zam zam daripada air sumur biasa di kota Arab dan Mekah adalah dalam hal jumlah garam magnesium dan kalsium. Air zam zam mengandung kedua mineral tersebut sedikit lebih banyak. Ini mungkin sebabnya zam zam memberikan efek yang menyegarkan untuk jamaah yang letih.

Selain itu, komposisi kandungan garam dan rasanya selalu sama sejak sumur ini terbentuk. Rasa tersebut selalu terjaga dan diakui oleh seluruh jamaah haji dan umroh yang selalu ke sana setiap tahun. Berdasarkan penelitian ilmiah di laboratorium Eropa, air zam zam memang lain. Zat yang terkandung di air tidak sama dengan sumur lainnya di sekitar Mekah. Hal mencengangkan lainnya adalah tidak ada lumut sedikitpun di sumur ini sehingga air zam zam selalu bebas dari kuman.

Pada saat sumur-sumur di Mekah kering, sumber air zam zam tetap berair. Selain itu zam zam juga diadikan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Demikian sedikit pencerahaan untuk menguak misteri air zam zam yang tidak pernah habis.

Subhanallah, betapa besar kuasa Allah. Sebarkanlah artikel ini kepada semua temanmu. Source: KumpulanMisteri